Dingklik - Welang : Bromo yg semakin Mahal

06:59 2 Comments A+ a-

Ini bukan cerita saya, melainkan trip rekan2. Akan saya beber sebisanya menurut cerita sdr Erik dgn gaya bahasa yg seadanya pula, harap maklum bila ada kekurangan di sana sini karena tidak mengalami sendiri, hehe
 Di waktu bersamaan saat saya menjelajah kawi,  rekan saya sdr erik (bikespot - Malang) mengambil trip gowes Bromo ' dingklik - welang' bersama 15 rider koskas Malang. Rute yg di mulai dari penanjakan itu berakhir di welang (pasuruan).
 Koskas Malang skrg punya armada baru utk memudahkan trip2 selanjutnya. Perjalanan ini mengambil tikum di kawasan suhat pukul 6 pagi.
Berada di bak terbuka memang menyenangkan, angin sepoi2 sambil leluasa memandang sepanjang jalan yg dilewati.

Nah ini dia tarif terbaru masuk Bromo  via nongkojajar - tosari - penanjakan, entah apa berlaku jg utk jalur via tumpang dan ngadisari.
Langsung saja, saya sudah mencoret Bromo dari daftar kunjungan pribadi via jalur ini.  Ada beberapa hal ;
Bisa dilihat sendiri tarif resmi yg dipasang skrg mengalami kenaikan sekitar 300% dari tarif sebelumnya, itu baru tiket utk orangnya saja. Bila membawa kendaraan ada hitungan tambahan, padahal utk mencapai sini  dgn membawa sepeda sudah merupakan biaya lain yg tidak kalah lumayan. 
Bromo saat ini benar2 dijual /dikomersilkan karena ramainya kunjungan, dan pemerintah setempat maupun masyarakatnya sadar sekali hal itu. Hal yg sama yg saat ini menular pada pulau sempu. Bila anda memakai kendaraan utk kunjungan wisata akan ada biaya tambahan utk keharusan sewa jeep.
Bromo skrg termasuk mahal bila dibanding wisata alam lainnya, dan ukurannya bagi saya yg seorang buruh kontrak dgn 6 hari kerja - 9 jam beserta gaji UMR ( ada lowongan bagus buat saya ga? hehehehe)

Utk info, blog saya lainnya yg memasang rute ke bromo via penanjakan dgn sepeda motor sudah mencapai 15rb tampilan/kunjungan sejak saya tulis 4.5tahun lalu , sungguh statistik luar biasa utk 1 posting saja.
Ternyata hal ini berlaku di lapangan, kunjungan ke bromo benar2 "ruarr biasa" apalagi di masa liburan. Dan sejak kepopulerannya menanjak ,segala yg di dekat bromo pun mulai dikomersilkan. Persis yg skrg terjadi di pulau sempu, salah satunya keharusan menyewa guide. Disinilah mulai ada hal2 yg menjadi keharusan bagi pengunjung. 
Saya pribadi mengunjungi gunung ,atau pantai adalah utk ketenangan, mencari penyegaran rohani di sela2 kesunyian alam , bukan utk bercengkrama ramai2.  Bila mencari keramaian rasanya tak perlu jauh, mall cukup banyak di kota saya.
Utk itu saya sudah mencoret Bromo dan Sempu dari daftar. Maafkan saya bila ada salah mengenai hal itu.
Jarak tempuh dari malang hingga penanjakan sekitar 2 jam , tiba lokasi sekitar pukul 10.
Anjuran utama salah satunya dalam gowes koskas Malang adalah jgn lupakan gaya setiap berfoto, dan bila memungkinkan perbanyaklah fotonya, hehe.
Dingklik sendiri merupakan pembuka jalur yg tidak terlampau panjang utk dinikmati ramai2. Dgn sedikit orang yg  memiliki kemampuan super merata malah bisa cepat sekali selesainya.
Yg menyenangkan adalah jalur2 yg menukik di sekitar ladang petani.
Utk keindahan , sudah ribuan yg mengulasnya. Dgn searching di gugel bisa didapatkan banyak sekali foto tentang keindahan bromo, jadi rasanya tak perlu lagi saya memajangnya.
Ini adalah penanda masuk jalur Ngadirejo dgn sebuah patung yg menyiratkan sikap monggo pinarak.
Acara masak yg pastinya asik, menikmati sajian di tengah dusun orang.
Selalu waspada lihat kemanapun , sapa tahu ada kamera mengarah kepada anda. Satu lagi, jgn sampai mati gaya, selalu biasakan dgn gaya yg umum dan mudah dulu ; Cap JEMPOL.
 Jalur di ngadirejo yg semakin rimbun di musim hujan. Menjadi kesulitan sendiri bagi sdr erik dan rekan2 Koskas yg ingin melintas dgn leluasa. 
Posisi miring ala nyirik2 begini bisa dihasilkan dari posisi memotret dari depan dgn menaruh rombongan berderet rapi dari depan ke belakang. Sapa yg tidak ingin masuk foto, padahal dgn posisi miring tsb pastilah ada yg wajah atau tubuhnya termutilasi dari jangkauan kamera. Paling apes sudah gaya tapi ketutup rekan di depannya.
Perjalanan hingga welang termasuk lancar meski dihiasi dgn ban bocor beberapa kali. Dari cerita sdr Erik juga menerangkan ada beberapa jalur tanah yg berkurang seperti di Ngadirejo karena sudah mulai dipaving. 
Cuaca cukup mendukung dan baru hujan menjelang welang. 
Apa ada kejadian lain, itu yg saya tidak tahu karena sdr erik menceritakan trip dgn cukup ringkas,tajam dan aktual.
Walau saya menangkap kesan sdr Erik selama gowes Dingklik Welang seolah rasanya estede alias standar2 saja, tentunya ada yg beda dgn rider2 lainnya.
Terima kasih sdr Erik atas cerita , foto2 dan sumbangsihnya utk blog saya, semoga rejeki kamu orang semakin lancar jaya.

nb. Bikespot Malang terletak di jalan wilis, dekat kawasan pulosari. Menyediakan servis maupun sparepart.









2 komentar

Write komentar
wwekowahyus
AUTHOR
8 January 2015 at 06:47 delete

Saya sendiri juga tidak lagi merekomendasikan track Dingklik - Welang. Dengan menggunakan tambahan 1 pickup official saja per rider masih harus merogoh kocek 70rb dengan asumsi 50rb untuk 2 pickup dan 20rb untuk tiket (setelah disubsidi).

Kalo lewat Jemplang, belum tahu, apakah pos Coban Trisula juga memberlakukan tiket yang sama. Kalo iya berarti tambah berat kedua track ini. Alternatifnya bisa dicoba track Ngadirejo-Welang saja.

Kapan gowes bareng pickup official Gung? hahahahaha

Reply
avatar
Arek Malang
AUTHOR
9 January 2015 at 05:12 delete

Wah belum bisa , kerja shift malam terus
nanti kalo sudah dapat kerja baru shift pagi atau jam kerja normal ,Insya Allah

Reply
avatar