Perhentian Sementara di Senja Hari

"Sedangkan sebetulnya cara mendapatkan hasil itulah yang lebih penting daripada hasil sendiri. “ - Tan Malaka 


Perubahan adalah harga mahal dan sebuah petualangan tanpa akhir.
Ketika kita hanya sebuah bibit kecil yang berada dalam gelap dan kemudian memilih waktunya sendiri untuk mewujudkan eksistensinya. Memilah dan memutuskan metode ataupun jalan yang mana yg ditempuh utk merambat ke atas bertransformasi.
Mempraktekkan segala ilmu, doktrin, pengetahuan , ajaran agama dan nasehat orang tua yg dijejalkan selama puluhan tahun dgn sedikit keringat kerja keras. Dan trial n eror pun kerap hadir.
Walau tak sempat mengenyam pendidikan sarjana di perguruan tinggi ternama, masih ada kampus kehidupan yang menerima dengan tangan terbuka. Tak ada kenaikan SPP  maupun SKS, namun disini kita perlu mempertimbangkan dengan matang setiap langkah, karena ia menuntut pembayaran tunai yg disebut KONSEKUENSI.



Terkadang langkah merunut arah yg keliru dan selalu ada pilihan. Iya, pilihan selalu ada dan kita bebas untuk berputar balik kembali ke titik awal lagi sambil mengutuk bahwa betapa sialnya kita menghabiskan waktu menempuh jalan buntu. Sayangnya selalu ada harga yg mesti dibayar atas pilihan itu ......,dan malangnya bahwa kompas kita rusak. Tak ada yg bisa dimintakan petunjuk dan nasehatnya harus kemana kita berjalan menemukan jalan kita sendiri.

Beristirahatlah sejenak, nikmati secangkir kopi. Senyampang masih bernafas dan bisa menikmati mentari pagi, selalu ada waktu utk menemukan jalan itu. Kita tidak dikarunia kemampuan meramal nasib, kita hanya bisa meningkatkan kemampuan dan kekuatan kaki kita untuk terus melangkah.
Jadi sambil menikmati kopi, mari menghitung dan menganalisa segala kemungkinan yg bisa kita raih, ... sampai yg terburuk.


Dan setelah raga siap dgn amunisi penuh, siapkah pula kita menghadapi kerikil2 tajam jalanan, menyusuri kedalaman jurang , memasuki rimba belantara yg dikuasai raja berhati singa, macan, onta dan buaya.
Dan peperangan abadi itu tak lain sebenarnya adalah perang dengan diri sendiri.
Sudah kuatkah langkah ini menatap lurus ke depan, dan bukannya mendongak mengagumi kesuksesan orang2 mapan,atau menatap ke samping berbisik kemalangan tetangga, pun menelusuri kebawah mengasihani kemalangan orang tak berpunya. Atau kita justru terus menerus menoleh ke belakang demi bernostalgia akan kejayaan masa lalu.
Tujuan begitu jauhnya, dan berpotensi kebosanan bila kita menunggu dalam diam serta hanya berharap Tuhan menjatuhkan bulan ke pangkuan kita begitu saja. Kebosanan juga bisa membunuh karena ia bisa mengalihkan fokus kepada hal2 pengisi waktu luang yg sekilas gemerlapan dan merayu rayu utk kita sedikit2  beristirahat sejenak. Sudah alami bila kita bersifat dinamis dan rindu pembaruan walau itu hanya perubahan tampilan belaka. Seolah nasib sudah berubah dgn berganti mode pakaian dan hp terbaru.
Tak seorangpun betah menjadi pecundang yg kenyang kekalahan. Namun tak semua bisa menjadi pemenang. Ia serupa hitam dan putih, dua sisi keping yg tak pernah akur namun selalu ada. Yang menjadikan kemenangan terasa berarti sebab adanya kekalahan.

Di sela kesunyian, timbul tanya, untuk apa sebenarnya perubahan itu? utk sebuah hasil seperti apa yg kita inginkan? sebuah kemenangankah, sebuah kedigdayaan, sebuah pengakuan, ataukah sebuah kebaikan utk diri sendiri atas penilaian pribadi.
Jika perubahan itu untuk menemukan diri sendiri, sudah siapkah kita dengan segala pengorbanannya? termasuk melepaskan keberlebihan dan menerima kekurangan, meninggalkan gemerlap dan menuju gelap?..




Perubahan bukan mie instan. Mie yg disukai banyak kalangan, dan dianggap solusi mudah cepat serta murah. Namun dibaliknya mengandung ancaman akan beberapa penyakit sebagai akibat bahan yg dikandung. Apa yg tampak lezat dan sedap belumlah 100% aman.
Perubahan terutama pada pola pikir memerlukan proses menahun , kontemplasi yg berkelanjutan. Dan terkadang kita tersesat.
Dalam arah yg tak pernah lurus , likuan selalu menghadirkan tantangan. Menerima dan pasrah saja terkadang bukan jalan penyelesaian terbaik  karena tetap saja terombang ambing oleh arus yg kian gencar berubah ubah wujudnya. Jika akhirnya kita menafikkan pertanyaan untuk apa sebenarnya diri diutus ke dunia ini, rasanya juga tak menghentikan apapun.
Sedang menanam apakah kita? bila kita menyemai bibit jambu tak mungkinlah kita memanen apel atau lombok. Pandainya menjaga gairah dalam diri utk perubahan. Berubah untuk sesuatu yg lebih mulia dan menjaga kesabaran, ingat dan waspada dalam mengawalnya

Siapapun kita, yg saat ini sedang merangkak di bawah dengan berdarah darah ,
ataupun yg berada di puncak dengan tongkat kemenangan yang berkilau...

Semua ini tak ada yg abadi bukan?  ..


(tulisan ini terinspirasi oleh sebuah artikel yg pernah saya baca  dari blog bintang hitam) 



Mengenal Alas Tunggorono Blitar

Singkat saja, saya nglayap ke tempat yg benar2 asing. Tanpa peta, tanpa pengetahuan apapun, hanya berbekal ilmu coba coba. Dan hasilnya adalah menemukan salah satu tempat menarik di perbatasan Blitar - Malang.
Tempat ini menarik karena berupa hutan cemara , berhawa sejuk, suasananya sepi dan belum ada informasi akurat yg saya dapatkan by google search.
Nama tempatnya adalah Hutan/ Alas Tunggorono. Bila disearching maka yg keluar adalah salah satu daerah di Jombang, dan  saya seyakin2nya saat saya masuk kawasan ini ada papan yg menyebutkan namanya Tunggorono.
Saya sendiri masuk melalui dusun cungkup dekat kesamben, kemudian masuk dusun Ampel Gading, Selorejo Kab Blitar.
Saat saya masuk kawasan alas tunggorono , saya menemukan kawasan hutan pegunungan yg liar. Menurut saya akan sangat menarik utk dijelajahi. Gilanya lagi saya sempat menyasar masuk dusun terpencil yg hanya bisa diakses melalui jalan di tengah hutan. Dusun yg rumah2nya masih memakai papan kayu, dan jalan desa yg hanya disemen seadanya.
Entah kenapa tempat ini tak populer, padahal menurut saya ga kalah dengan kawasan hutan di daerah kab Malang. Bila anda pernah menjelajah ke kawasan hutan dekat coban glotak, maka sedikit mirip.
Jika dilihat dari koordinatnya maka masih masuk pegunungan Butak.
Berikut foto dengan HP seadanya( sebetulnya saya membawa kamera yg sayangnya tanpa kartu memori, jadi ya bisa ditebak sendiri)

 Bila ada teman, maka suatu saat saya ingin menjelajah lagi kawasan ini.