Mengenal Alas Tunggorono Blitar

Singkat saja, saya nglayap ke tempat yg benar2 asing. Tanpa peta, tanpa pengetahuan apapun, hanya berbekal ilmu coba coba. Dan hasilnya adalah menemukan salah satu tempat menarik di perbatasan Blitar - Malang.
Tempat ini menarik karena berupa hutan cemara , berhawa sejuk, suasananya sepi dan belum ada informasi akurat yg saya dapatkan by google search.
Nama tempatnya adalah Hutan/ Alas Tunggorono. Bila disearching maka yg keluar adalah salah satu daerah di Jombang, dan  saya seyakin2nya saat saya masuk kawasan ini ada papan yg menyebutkan namanya Tunggorono.
Saya sendiri masuk melalui dusun cungkup dekat kesamben, kemudian masuk dusun Ampel Gading, Selorejo Kab Blitar.
Saat saya masuk kawasan alas tunggorono , saya menemukan kawasan hutan pegunungan yg liar. Menurut saya akan sangat menarik utk dijelajahi. Gilanya lagi saya sempat menyasar masuk dusun terpencil yg hanya bisa diakses melalui jalan di tengah hutan. Dusun yg rumah2nya masih memakai papan kayu, dan jalan desa yg hanya disemen seadanya.
Entah kenapa tempat ini tak populer, padahal menurut saya ga kalah dengan kawasan hutan di daerah kab Malang. Bila anda pernah menjelajah ke kawasan hutan dekat coban glotak, maka sedikit mirip.
Jika dilihat dari koordinatnya maka masih masuk pegunungan Butak.
Berikut foto dengan HP seadanya( sebetulnya saya membawa kamera yg sayangnya tanpa kartu memori, jadi ya bisa ditebak sendiri)

 Bila ada teman, maka suatu saat saya ingin menjelajah lagi kawasan ini.

Nostalgia Jalur Princi - Bedengan

Hari raya ketiga dengan kondisi yang masih gamang  antara kuat dan tidak, saya nekat saja melahap tanjakan menuju princi. Dan tebak, baru sampai di gapura Ds Selorejo saya sudah 4 kali nuntun sambil berhenti sesekali ambil nafas. 
Di desa, hari ketiga idul fitri menurut saya merupakan hari teramai. Jalannya padat dengan kendaraan lalu lalang. Bukan situasi yg saya antisipasi sebelumnya.
Jalan kalisongo tak lagi mulus. Giat pembangunan perumahan di daerah ini berdampak dengan aspal yg banyak terkelupas di sana sini. Seingat saya 2 tahun lalu masih nyaman menikmati lenggangnya. Kini lahan yg berganti rupa dan beberapa bangunan baru mulai mengisi kelenggangan itu.

Dengan dengkul loyo, baru setengah jam gowes saya sudah memutuskan mampir warung bakso mercon. Yang namanya mercon itu pentol diisi sambel, byuh..... 
Lambung masih beradaptasi setelah momen ramadhan. Buru2 keringet kepedesan, ini bisa bikin melilit dan pening kalau nekat disikat.

Setelah isi perut, ternyata kekuatan tak lantas naik dgn drastis, tetep saja 10 menit kemudian saya berhenti di pinggir jalan setelah dada terasa sesak. Jaim sudah entah kemana, mending dikata "emangnya sapi, kok sepedaan dituntun" daripada saya memaksakan semaput di tengah jalan. 

Tujuan masih jauh, dengan situasi beberapa kali nuntun membuat saya makin ragu utk terus apa tidak. Ketemulah seorang kakek yg gowes pagi itu. Setelah bincang sejenak,  diberikanlah saya semangat utk lanjut.....  lanjut nuntun maksudnya, yg penting tiba di tujuan.

Ya sud..., kalau diceritakan momen2 sebelum tiba di princi , kiranya hanya berisi kepayahan melulu. Utk tahu saja, saya terakhir nanjak kemari itu sekitar 3-4 tahunan lalu. Dan akhir2 ini saya agak alergi lihat tanjakan yg berbau lebay seperti tanjakan cinta.
Dalam pikiran saya, di tengah jalur pegunungan pastilah nikmat menikmati momen2 sepi seperti saat ini, saat dimana orang normal pastilah memilih di rumah atau wisata bersama keluarga dan sodara... hahay.

Setiba di princi, baru awal jalur sudah dihadang ular. Dilempar kayu pun si ular tak mau beranjak pergi. Feeling saya pasti habis makan jajan riyayan nih ular. Dilewati depan hidungnya juga diem saja.

Menatap princi mengingatkan saya akan masa awal2 saya bersepeda. Ini adalah jalur kesukaan saya dulu. Baik dari segi pemandangan dan sisi turunannya. Memang tak begitu panjang namun asik dibuat latihan. Muncaknya kemari yg ngabisin energi bila dipancal total.
Yang kedua mengingatkan saya seorang teman, Anshari. Entah bagaimana kabarnya, lama tak jumpa. Bila tidak salah ingat, jalur ini merupakan favoritnya.


Ada 2 longsoran di tengah jalur. Menyisakan sedikit saja utk dilintasi, pelan2 saja karena kalau selip ke jurang sedikit saja entah bagaimana jadinya.
Jalur princi ini cuma diketahui orang sekitar, crosser dan mancaler. Alay2 kekinian tak ada yg tahu karena memang tak ada spot untuk itu.
Dibanding beberapa tempat wisata yg baru dibuka dan fotoable, tempat ini menurut saya lebih kharismatik.
Alami, sepi, dan menantang.

Tak ada suara motor, tak ada petani, tak ada orang lewat tapi entah kenapa serasa ada mata yang mengawasi. Saya berusaha menikmati dan memacu sepeda semampunya.
Beberapa kali saya membuat burung2 yg sedang asyik turun di tengah jalur beterbangan dan riuh berkicau. Mungkin mereka cukup jengkel bahwa waktu utk menikmati kenyamanan tanpa kehadiran manusia terganggu.
Tegang sekaligus senang begitu saya sudah keluar dari dereta pohon pinus. Untuk selanjutnya sedikit menuntun menuju spot terakhir.


Perkiraan saya bahwa bedengan akan ramai pula ternyata meleset. Kawasan wisata ini masih lenggang mengingat ini musim liburan hari raya. Dengan merendam kaki sejenak saya mengamati keceriaan pengunjung.




Akhirnya selesai juga gowes nostalgia ini. Melelahkan dan sempat membuat saya drop setelahnya. Tapi ya lumayan ampuh mengobati sedikit kangen melihat spot alami. Entah apa jalur ini masih ramai ya seperti dulu ?