Mengenal Kebun Kopi Bangelan

Menjelajah Malang raya menuju sumber pucung. Waktu mengarah jam setengah 2 siang saat  arus lalu lintas begitu padat di hari libur. Dengan perkiraan 3-4 jam perjalanan termasuk kendala macet. Jalan bergelombang sepanjang talangagung hingga kepanjen tak saya perhitungkan, dan rasanya bagai sedang menunggang kuda. 
Sebelum perjalanan ini saya tak tahu apa itu bangelan, mendengar namanya saja tidak pernah. Pokoknya saya berangkat ke sumber pucung, puter puter, kalau kepingin makan apa ya makan, kepingin berhenti dimana ya berhenti.


Dan siang itu di sumber pucung , tahu tahu saya sudah naik perahu penyebrangan selat lahor, hehehe. Asyik nih, sumpah.
Duduk - duduk menikmati perahu berjalan pelan , memandang hamparan yang luas dan hembusan angin yang segar.




Seingatan saya heboh sendiri, maklum yang model begini mana ada di kota.  Menemukannya adalah melalui jalan paving yang hanya cukup untuk 1 motor + 1 orang.
Jalannya kecil , sekelilingnya rimbun.


Yuk semangat ah, bapak saja semangat 45. Saya jadi terbawa suasana sampai kepingin melompat nyemplung dan jumping ala lumba lumba.


Naluri fotografer amatir saya tergugah seketika melihat nuansa indah di depan mata. Sayang hasil foto entah kenapa menurut saya masih sangat jauh lebih bagus aslinya, hehehe.
Kelar itu, ternyata saya masih diberkahi ketemu sawah dan jalan nan lenggang seperti jalan2 di perkampungan skandinavia itu lho, tau ga? sama saya juga ga tahu, hehe.

Dan memang tak ada yg mengalahkan sensasi berkendara di pedesaan. Mau berkendara sepeda atau apapun itu.
Bilamana di kota , kebut2an, saling mendahului, saling klakson dan ngawur sudah menjadi umum. Disini di entah apa namanya, seolah saya diingatkan lagi untuk tetep woles, kalem ae bin selow.
Jalan pelan2 tak risau ada kendaraan tiba2 muncul dari pinggiran gang, ataupun disalip ala rossi dari sebelah kiri.
Mata tidak tegang karena  terus terusan waspada bila muncul reting/sein belok mendadak.
No macet, no ngebut, no lampu merah, no polisi tidur, dan utamanya lagi yang berkendara bisa diitung jari.
Udara terasa fresh, batin tenang, hidup terasa lebih nikmat.


Hingga saya memasuki desa di mana penghias sepanjang pinggiran jalan adalah tanaman kopi dan kopi. Gimana ga dahsyat coba.
Alam sekitarnya teduh dan adem, khas hawa gunung.
Terus saya ikuti hingga menuju gerbang bertuliskan PTPN Kebun Bangelan.
Baru ini saya mendengar namanya, penampakan luarnya sudah mengundang penasaran yang sebenernya dimulai dari tadi saat saya  melihat banyaknya tanaman kopi.


Setiap rumah dikelilingi  kebun kopi. Bagaimana ga kepingin ngopi kalau begini.
Jalannya amat mulus dan mempermudah penelusuran.



Semakin jauh masuk, makin terpana mata dan batin. Ayem tentrem dipenuhi tetumbuhan subur sekitarnya beserta rumah dinas para pekerja kebun yang tertata rapi.
Anak - anak kecil  dolan di sekitar lapangan yang amat luas dan berlarian bebas kesana kemari.
Saat itu hanya mesin motor saya saja yang mengganggu. Kiranya naik sepeda akan menjadikan komplit pengalaman ini.




Rumah singgah, rumah dinas beserta perangkat lainnya amat retro punya. Semacam nuansa tahun 70an. 
Perkiraan saya perkebunan ini berdiri cukup lama.
 Yang tak saya mengerti adalah kehadiran rudal scud ini, hehehe. Mungkin semacam tugu peringatan. 
Maafkan saya karena saat berkunjung sendiri tak saya temukan orang untuk diajak berbincang sejenak tentang kebun ini. Sesungguhnya amat ingin sekali.


Kebun Bangelan mengklaim memiliki kebun terluas kedua setelah Dampit sebagai penghasil kopi.
Dengan 80 % robusta dan 20 % arabika.
Lagi2 trip ini memerlukan sambungan ke depannya lagi karena saya pulang tak membawa kopi walaupun  menjadi sesuatu yang saya amat ingin sekali. Kopi bangelan? hm sepertinya menarik sekali karena melihat kondisi perkebunannya yang cukup terawat, alami dan berada di dataran tinggi.
Menurut anda? ....


Bagi anda yang ingin mendahului saya untuk mencicicpi kopi bangelan bisa melihat petunjuk jalan yang ada di foto. Bila sama berarti anda tidak salah jalan.
Selamat menemukankannya
Tak banyak yang tahu bahwa di sebuah daerah di Malang, tepatnya di Kabupaten Malang menjadi sebuah kebun yang menghasilkan kopi cukup besar bagi Indonesia. Ya, Kebun Bangelan yang ada di Desa Bangelan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang memang cukup besar. Tak hanya milik perusahaan, tapi juga milik kebun rakyatnya. Apabila kedua tanah tersebut ditotalkan, maka Kebuh Bangelan ini memiliki kebun kopi hingga 917 hektar!
Dari 917 hektar tersebut, 864 ha ditanami kopi robusta sedangkan 50 ha sisanya ditanami dengan kopi arabika. Kebuh Bangelan ini memang penghasil kopi robusta yang besar dibandingkan dengan kopi arabikanya. Meski kopi arabikanya lebih sedikit, namun telah menghasilkan 1,1 ton hingga 1,2 ton per hektar.
Kebun Bangelan ini memang sebagian besarnya ditanami tanaman kopi, namun tak hanya itu, di sini juga ditanami pohon sengon, teh dan sebagainya. Daunnya digunakan untuk pakan ternak kambing dan kotoran kambing digunakan untuk pupuk kopi. Warga Bangelan memang mampu bergantung dengan perkebunannya dan mengandalkan alamnya. Bahkan di Bangelan ini pusat kambing buer dan etawa.
Selain Dampit yang mampu menghasilkan kopi terbaik, kopi hasil dari Kebun Bangelan ini pun tak kalah baiknya, karena produksinya disertifikasi oleh lembaga pengawas produksi kopi dunia, UTZ Certified yang berpusat di Finlandia. Sisi produksi yaitu dengan meminimalisir penggunaan pestisida dan pupuk kimia dalam tahap budidayanya serta proses pasca panen yang telah diproses sedemikan baiknya. Sehingga hal tersebut mampu menghasilkan mutu kopi yang memenuhi standar dunia dan memiliki harga jual yang cukup tinggi. Maka tak heran apabila kopi di sini telah dapat diekspor ke berbagai luar negeri. Serta dengan baiknya proses produksi, Kebun Bangelan ini selalu mampu menyumbang kopi robusta 650 ha per tahun pada kondisi cuaca normal.
Pasar internasional yang berhasil di tembus oleh kopi yang dihasilkan Kebun Bangelan ini di antaranya ada Jepang, Amerika dan Eropa. Hal ini pun membuat Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Malang sedang mengupayakan lebih untuk mengangka citra kopi Wonosari, karena hal tersebut juga sesuai dengan ikon promotif, yakni Kabupaten Malang sebagai bumi agrowisata tersbesat di Jawa Timur. Kita doakan saja Kebun Bangelan ini semakin bagus kualitas dan daya tariknya bagi masyarakat lokal maupun luar negeri.
Sebagai warga Malang tentu harus juga mendukung potensi lokal seperti kebun kopi di Desa Bangelan ini dengan menikmati kopinya yang sekaligus juga mendukung petani-petani kopi di Indonesia atau menikmati hasil dari berbagai potensi lokal lainnya, tak hanya perkebunan, bisa dengan kesenian dan kebudayaannya juga.

Menutup Maret

Sebagai penutup bulan maret ini adalah acara berkeliling tajinan dan sekitarnya. Perjalanan ini memakan waktu pendek tak sampai setengah hari.
Bilamana menemukan sebuah jalan yang mengundang rasa penasaran , maka segera saya masuki. Modelnya  masih sama seperti saat saya bersepeda dulu.
Jalan percabangan dari sebuah rute saya turut sampai kemana ujungnya. 
Alhasil banyak hal baru dan asyik menurut saya. 
Perjalanan lain dengan model yang sama saya tulis di post berikutnya.
Bulan ini terasa amat luar biasa. Melupakan sejenak tentang  kecanggihan mesin pencari youtube yang merekomendasikan musik - musik luar biasa sesuai tipikal kesukaan saya, yg segera saya koleksi untuk menemani menempuh perjalanan.
Youtube bener2 gila, merekomendasikan seorang Boy Pablo yang tak pernah dikenal, dalam hitungan bulan meledak menjadi seorang superstar baru indie musik dengan berkelanjutan tour eropa . Dan rantai itu berlanjut pada Gus Dapperton, Phum Vipurit, Mondo Grosso dan  sejenisnya. 
Google membuat youtube melacak jejak digital kita pada penelusuran, dan berdasar algoritma yang  entah bagaimana 'simsalabim' dia akan merekomendasikan kita sesuatu ajaib, baahkan itu meski sesuatu yg terselip tak pernah orang tahu. Jadi bersiap2lah menghadapi dunia dimana anda sendiri bisa menjadi fenomena itu.
Oh ya, beberapa posting saya di blog ini ada yang mencapai puluhan ribu. Dibagi kesana kemari dgn jumlah viewer yang menurut saya terlalu luar biasa karena postingannya menurut saya biasa saja.



Dalam mengelilingi tajian ini saya menemukan sebuah area kolam yang cukup besar namun areanya tertutup.
Bisa diamati dari kejauhan saja

Sebuah kolam yang cukup besar ,airnya mengalir dengan tembok di sekelilingnya, tanpa kehadiran manusia satupun.

Ada bangunana yang tampak tidak terpakai dan seperti tampak ada kamar mandi. Entah untuk apa dulunya tempat ini, ada yang tahu?
Anda bisa menemukannya di jalur tajinan menembus wajak.