Dampit

15:46 0 Comments A+ a-

Ada 2 hal yg saya tahu tentang dampit, yang pertama adalah salah satu kabupaten Malang yang punya kondisi alam yang bagus banget. Dampit tak henti-hentinya memukau dengan keelokan hamparan hijau, tatanan bukit maupun pegunungannya.
Saya berangkat antara pukul 9 - 10 pagi. Dari lingkar poncokusumo menembus wajak untuk kemudian berbelok sejenak ke tempat asing. Berbekal rasa ingin tahu, saya nekat mengurut pelan jalan kampung yang kelihatannya menuju lereng semeru.
Diawali jalan yang mulus, berlanjut jalan yang berlobang dan diakhiri makadam yg mengantar ke hutan pinus.  Bebarengan dengan sebuah mobil carry model lama yang akhirnya memlih putar balik karena tidak kuat menembus bebatuan yang juga menanjak.
Saya sempat mengira menemukan lokasi emas dan tersembunyi kala melihat deretan pinus yang menghampar rapi sepanjang jalan.
Nyatanya tidak sesuai harapan, sebuah keramaian di penghujung jalan menyadarkan akan sesuatu.
Kala melihat puluhan deret motor parkir dan sebuah pos tiket, maka tuntaslah sudah kecewa saya.


Bila tidak salah baca , ini  wana wisata baru di dusun patok picis, wajak. Mengekor kesuksesan hutan putih semeru (HPS), kawasan ini dikelola dan dibuka untuk para pengunjung yang mau eksis, Rumah pohon, taman dan warung kekinian tersedia bagi para pengunjung.
Bagi saya sih ini kesasar yang sebenar benarnya kesasar.

Sungguh siapa ya yg memulai model wana wisata semacam ini, karena makin populer sepertinya akhir- akhir ini. 
Model yang paling umum  dan yang paling banyak ditiru adalah  rumah pohon dan taman. Model ini menarik banyak minat pengunjung dan tentunya penghasil pundi - pundi.
Apa hutan pinus biasa dengan sentuhan alami kurang menarik?
Agak susah menjelaskan definisi menarik akhir- akhir ini.
Saya turun secepatnya, ga ada minat masuk dan lihat lebih jauh.
Ini kadal apa bunglon? 
saya tidak berpengetahuan dan menebak nebak saja apa jenis hewan ini.
Ketemu di tempat wudhu di sebuah masjid di daerah dampit.
Saya memilih melaju memasuki salah satu kawasan  di dampit yang tidak saya kenal sebelumnya.


Baru masuk saja seolah saya sedang melihat tanah minang. 
Sepi dari kendaraan, tempat ini justru ramai oleh kesibukan warga di sekeliling rumah dan ladang.



Jika baru masuk saja sudah bisa menarik hati, selanjutnya ada apa semakin membuat penasaran.
Oh ya, wilayah ini sekilas saya baca masuk Sukodono.
Tips dari saya adalah jangan lupa untuk mengabarkan pada keluarga ataupun orang yg terdekat  di rumah kemanapun kita pergi . Terutama bila  masuk wilayah2 yg masih asing. Untuk berjaga2 bila terjadi musibah.
Toh kirim WA sebentar tidak akan menggangu keseluruhan perjalanan. 
Setelah masuk agak dalam ketemulah yang demikian. Berundak undak mengalir di antara batuan dan tanah berkapur. Berada di pinggir jalan yang sepi.



Inilah bintang utamanya. Setelah jauh berputar - putar, sampailah saya di suatu tempat yang lapang dan hijau ini. Rasanya tempat ini sudah cukup untuk merangkum keseluruhan perjalanan.



Untuk bisa menjumpainya, masuklah ke sukodono dan lanjutkan untuk masuk ke Sumber suko. 
Apalagi yang asyik dari berkeliling ke desa melihat hamparan hijau dengan jalanan yang lenggang.
Poin kedua yang saya tahu dari dampit adalah didukung kondisi alam yang bagus, tempat ini punya kopi yg terkenal di luar negeri dan mulai bergema di penggemar kopi lokal juga.
Waktu saya masuk jalan pahlawan, sempat mencium bau kopi yang sedang dimasak (roast), baunya sangat enak dan mantab.
Walau sudah berkeliling mencari tidak saya temukan siapa yang sedang masak kopi seenak ini, sapa tahu bisa numpang nyicip.
Jadi kepingin segera pulang buat nyeduh robusta premium dampit di rumah.

Dampit punya 'sesuatu' , saya yakinkan itu untuk semua yang suka berpetualang.