Showing posts with label Konco Dewe. Show all posts
Showing posts with label Konco Dewe. Show all posts

Hutan Pinus Semeru

Baru kali ini saya kekinian.  Ada tempat hangot baru di Malang yg mungkin beberapa minggu bisa bulan maupun hari akan meledak. Apalagi kalau bukan spot poto2.
Dan saya mungkin baru dari sedikit orang yg kebetulan tahu... duh, biasanya saya ga hobi yg gini2..
Namanya HPS atau hutan pinus semeru.
Lokasinya masih searah dengan bon pring, yaitu Turen.

Lucunya meski jalan masuk lewat Turen, lokasi HPS masuk wilayah wajak.
Begitu masuk, kita akan disambut dengan hutan pinus yg tertata rapi dengan hiasan puluhan payung


Suasana saat saya datang adalah habis diguyur hujan. Hawa yg aslinya sejuk jadi sedikit menusuk.
Beberapa spot cukup ramai dgn muda mudi berfoto ria.

Saya sendiri memilih buka kompor dan ngopi setelah nyoba foto levitasi yg gagal total.
Berikut salah satunya..


Lokasi ini agak sulit dicapai dengn mobil biasa, mesti parkir agak jauh. Motor bisa, mobil disarankan 4wd.
Bagaimana bila dgn sepeda? wuiihh dijamin maknyussss.... kontur tanahnya mirip di bromo, cocok buat all mountain enduro. 
Sekarang lokasi ini masih gratis, entah selanjutnya. Cukup bayar parkir 5rb.
Dusun sumber putih, dari masjid tiban masih lurus terus hingga perempatan lurus hingga aspal habis.


Bersama si Kecil

Anda akan sangat heran jika mengetahui bahwa sesungguhnya suku pedalaman membesarkan bayi2nya dengan penuh keterbatasan dan anak2 itu tetap tumbuh dengan baik.
Pedalaman bisa berarti hutan, rimba dan segala ketertutupan maupun ketertinggalan dari kondisi di luar sana. Nyamuk dan ular mungkin hanyalah sebagian kecil dari problema mereka yang tak sebesar ketakutan kita di peradaban modern,wkwkwk.
Jadi kenapa begitu banyak orang yg parno dlm membesarkan anak2nya yg tak sesusah suku pedalaman sana, termasuk saya sendiri tentunya.
Saya orang suka petualang, tapi membawa anak serta kedalam petualangan saya itu bukan hal mudah. Saya berpikir berkali lipat segala kondisi dan konsekuensi yg akan saya hadapi.
Namun itu semua runtuh manakala saya ingin anak saya mendapatkan haknya mengetahui dan belajar dunia di luar sana, berkembang dengan baik dalam kondisi yg seimbang. Seimbang artinya tidak cuma dimanja saja, tapi diajari disiplin pula. Tentu saja masih dalam batas yg cukup utk diterima seumurannya.

Kini saya mulai menjalankan rencana pelan2 utk mengenalkannya dan mengakrabkan dengan alam. Sehari2 dia sudah cukup bergelut dengan debu dan udara yg penuh polusi, jadi perlu kiranya sesekali menghirup udara gunung yg segar sambil bercengkrama dengan bapaknya. 
Di siang cukup panas dengan sesekali mendung, saya ajak anak saya trekking ringan di coban Glotak. Sungguh mengharukan untuk anak yg belum genap 3 tahun tapi minta jalan sendiri, ga doyan di gendong bapaknya. Melihatnya bisa lepas menikmati alam dan tertawa terbahak2 membuat saya seperti kembali ke masa - masa awal nglayap ke pegunungan. Fresh!













Pantai ( FOTO)

Sumpah saya sebenarnya sedang 'remek' alias KO. Pilek berat yg berujung batuk. Lha kok ndilalah diajak adik ke pantai seh buat survey. Duh..
Semenjak sama- sama berkeluarga, kami hampir belum pernah melewatkan waktu nglayap berdua. Jadi ya momen spesial ini saya ambillah antara pasrah dan sekuat tenaga.
Nglayapnya ke Pantai BAtu Bengkung, cuma kali ini bedanya kita manjat ke bukit batu bengkung. Biar sudah ada papan peringatan larangan, tetep aja jadi malah bikin penasaran.
Dan berhubung pula saya lebih milih ' kurangin selfie, banyakin nyantai' ya udah saya cuma duduk2 ngopi ae sambil terbatuk2.

Karena ke bengkung ini sudah pernah upload cerita juga, jadi saya kasih judulnya pantai foto, alias ke pantai cuma buat foto2 aja. Judulnya terinspirasi dari outlet canon 'Pantai Foto' di jalan Basuki Rahmat. Hehehe
Berikut fotonya;

 Kepingin renang tapi ga bawa baju ganti, plus kondisi mengguk
Masjid di desa argotirto- Sumawe

Ini yg diperoleh setelah naik ke bukit Batu Bengkung. Setimpal ga ama bahayanya?..



Naik lagi memutar ke sisi lain dari bukit yang sama

Keindahan yang cuma bisa diperoleh setelah punya rasa nekat
Tepat di ujung tebing itu ada sekelompok orang yg sedang asyik memancing
Kolam alami sekaligus pemecah ombak
Between mood and mode
Sebuah pose yg menghasilkan gagal paham...
Senja mulai tiba dan pantai semakin ramai
Pemandangan yang mahal tapi murah...
cuma seharga 15 ribu utk 2 orang plus motor
Waktunya pulang dan 'say goodbye.......'





Tertidur Dalam Badai

Sebuah judul yg  cukup super, sesuper realitanya. Kegiatan nekat ini tidak akan berjalan dan berakhir dgn baik tanpa rahmat Tuhan Yang Maha Esa, hehehe. Didukung niat yg bulat, rekan yg klop, dan persiapan mental dan fisik yg oke menghasilkan perjalanan yg bisa dikenang sepanjang hayat.
Jadi si Anshari lagi ada di Malang dalam rangka beberes. Dan ajakan trekking itu sudah pasti sulit ditampik adanya manakala datang dari rekan yg sudah layaknya sejiwa.
Dan karena si Anshari belum kenal dgn syahdunya putuk lesung gn Arjuno, mumpung di sini udah hayukk aja.

 Start sekitar jam 10an di jalur pendakian. Cukup padatnya arus dari Malang hingga purwosari menyebabkan sedikit molor dari waktu perkiraan.
Ijin di pos pendakian sebentar, dan asal tahu saja bahwa jalur pendakian sedang DITUTUP. Semuanya baik itu jalur lawang, tretes, dan purwosari. Boleh lanjut asal ga muncak, cukup sampai pos yg cukup aman. Pemberitahuan resmi alasannya adalah badai maupun cuaca sedang menghebat ketidakramahannya.
Mas penjaga pos masih mengingat saya, sudah mahfum bahwa saya tidak ada rencana  menginap , jadi kita boleh lanjut terus.

Goa Ontoeboego cukup sepi , kami berisitirahat sebentar di sini. Diam2 si anshari punya bakat jadi pawang anjing. Ini anjing2 bisa manut dipanggil. Kala saya ga deh, terima kasih. Ada trauma sendiri dgn hewan satu ini.


Perjalanan menuju Tampuono, kami berpapasan dgn sejumlah pendaki. Pendaki awal yg kami temui mirip tim evakuasi. Namun tak terlihat ada sesuatu yg urgent atau sedang diselamatkan. Sapa menyapa saja sesama pendaki.
Rombongan kedua yg kami temui adalah keluarga dgn 2 orang anak cewek, uhuuii....
Dan rombongan ini mulai dari kamis, baru turun selasa ini tadi, wuihh....

Pertengahan ke Tampuono, ambil ngaso dulu. Jalur yg kami pilih bukan yg memutar tapi yg langsung libas habis tanjakan lurus ke atas. Alhasil ngos-ngosan.



Rencana ngaso agak lama dan mengitari tampuono dibatalkan, penyebabnya tiba-tiba si Anshari begitu duduk langsung ngantuk berat seperti orang sedang kena sirep. Udah daripada kebablasan langsung kita tancap lagi ke putuk lesung dgn mampir dulu ke tempat ritual di tampuono. Cuma utk memastikan bahwa suasana saat itu benar2 sepi sekali.

Hutan lebat antara tampuono dan putuk lesung rasanya tak perlu dibahas lagi. Anshari ambil jalan di depan agar saya tak lancang utk merusak suasana kesan pertama. Dan begitu sampai , si anshari cuma " wow.....wow......... " aja. 
Hakakakaka amazing berat.

Buka bekal, duduk santai dan menikmati momen. Dgn keringat yg membasahi baju dan badan, terasa sekali begitu diam sebentar hawa langsung terasa dingin tapi kita masih memilih utk stay di depan pondokan.
Sempat ketemu bapak yg pernah saya ceritakan sebelumnya sedang mencari ranting kayu.


Urusan pertama adalah isi perut. Cuaca masih aman dgn terik matahari yg tidak rata.

20 menit kemudian tiba cuaca berubah drastis.  Setelah diawali kabut tebal dan pekat, hujan kemudian turun dgn hebatnya. Bersama angin kencang datang pula geledek menyambar-nyambar.
Awalnya masi bertahan di teras pondokan. Ternyata si anshari mulai menggigil. Sudah cuaca beranjak ekstrim, badan dan baju masih basah kena keringat.
Sekoteng panas dan tikar penghambat angin tak membantu, situasi di luar semakin tak terkendali.
Ya sudah akhirnya kita masuk pondokan. 
Di dalam, kita terus nyalain kompor masak utk melawan hawa yg semakin menusuk walau sedang tidak masak .
Ada cempluk/lampu tempel namun tak membantu karena sumbunya kependekan. 
Duduk sambil ngobrol, diluar suara hujan seperti bunyi aliran sungai yg sedang mengamuk. Geledek masih terus mendekat menjauh.

Tengok keluar ternyata memang sedang pekat gulita, udah masuk ke dalam lagi. Pintu pondokan di buka sedikit saja , itu hempasan kabut langsung menyeruak ke dalam pondokan.
Amankan sepatu dulu sambil cari tempat kencing yg memungkinkan. Cuaca seperti ini kerap membawa kebelet memang.


Akhirnya daripada mati gaya di dalam, kita bikin lagi sekoteng dan coklat panas, wuuuih nikmatttt. Berada di tengah cuaca seperti ini, selain menjaga pikiran positif perlu juga menjaga asupan kalori.
Benar2 perlu dipikirkan rencana plus plus utk menghadapi situasi yg sedemikian. Untung si anshari bawa bahan bakar kompor agak banyak, jadi bisa dipakai menghangatkan badan sekaligus 'membakar' nasi. (Kita taruh nasi bungkusan itu di atas kompor saking kepinginnya makan yg panas2).
Lampu yg menyala putih itu adalah powerbank.
Dan utk mengusir pikiran macam2 maupun yg aneh2, saya berinisiatif memutar playlist di HP. Asik juga dengar lantunan akustik macam depapepe dan Oshio Kotaro.


Saking syahdunya suasana dan badai yg tak kunjung reda, perlahan rasa kantuk itu tiba. Di awali si anshari yg  merem duluan, kemudian tak lama kelopak mata saya juga terasa berat. 
Saya dokumentasikan sebentar sebelum akhirnya kita sama terlelap. Ternyata masih ada nikmat dalam badai, yaitu istirahat yg lelap.
Hampir 3 jam kita tertahan di sini.
Sampai akhirnya geledek tak lagi terdengar, hanya rintik yg ritmis menari di atap pondokan.
Suasana ini begitu merasuk sedemikian rupa saat dibawa sholat menghadap Kebesaran-NYA.
Alhamdulillah cuaca berangsur membaik.

Kabut mulai tersingkap walau hujan masih tak menentu, terkadang deras sekali terkadang terasa kalem.
Setelah dirasa memungkinkan, saya bangunkan anshari utk packing dan siap2 turun menerobos hujan. 
Hujan tak akan berhenti hingga malam nanti menurut insting saya. 

Turun,kita potong kompas menuruni jurang dan tebing curam. Awalnya mencari jalur turun yg berbeda, ndilalah malah masuk lereng jurang. Udah hajar saja
Menerobos belukar dan pepohonan di tengah hujan deras, akhirnya kita bisa kembali di jalur pendakian. 
Pos tampuono tidak kita lewati dalam jalur turun ini.
Jalur selanjutnya kita juga menyimpang tak melewati Ontoeboego.
Sempat bertemu beberapa orang yg akan lelaku. Bahkan ada juga pendaki yg hendak ke atas di tengah cuaca yg menurut saya kurang mendukung ini.
Alhamdulillah selamat tak kurang suatu apapun hingga pos perijinan lagi. Namun hujan yg tak kunjung henti dan kelelahan sepanjang kembali ke Malang sangat terasa.
Saya sempat merasa kena hipotermia ringan. Mandi air panas seperti tak terasa, rasanya dingin dan kulit terlihat pucat. Udah langsung sembunyi di balik selimut aja utk ngorok, haha.
Dan saat esok saya tulis ini, kemungkinan rekan satu ini akan kembali ke kalimantan , utk merangkai masa depan.
Terima kasih kawan, semoga sehat selalu utk petualangan selanjutnya.
Tak ada yg lebih indah selain perjalanan bersama kawan karib dengan disponsori Tuhan